Bangsa Indonesia adalah bangsa yang pluralistik, yang terdiri dari beraneka ragam suku, ras, adat istiadat, budaya, bahasa serta agama dan lain sebagainya. Keberagaman yang ada tentunya dapat menimbulkan pemasalahan tersendiri, seperti masalah SARA, paham separatisme, tawuran atau kesenjangan social. Oleh karena itu kerukunan hidup antara sesama harus selalu dijaga dan dibina.
Mengingat pentingnya menjaga kerukunan, agar terciptanya perdamaian, maka sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Pemuda Peduli Perdamaian (FP3) yang difasilitasi oleh Saree School mengadakan Workshop dengan tema “Membangun Perdamaian dalam Keberagaman”, yang dihadiri oleh beberapa kelompok etnik buaday di Aceh, diantaranya suku Singkil, suku Kluet dan suku Aceh.
Workshop yang dilaksanakan selama 3 hari ini (16-18 Juli 2011), diikuti oleh 17 orang peserta, menghadirkan pemateri yang terdiri dari Nurdin AR (mantan Kepala Mesuem Aceh) dan Otto Syamsuddin Ishak (Koordinator Konsorsium Aceh Baru) yang membahas tentang pentingnya membina perdamaian dalam berbagai perbedaan budaya dan adat istiadat.
Dengan adanya kegiatan tersebut, di harapkan pemuda mampu memelihara dan menjaga berbagai macam kegiatan adat, sehingga dapat membangun karakter pemuda Aceh yang bertoleransi pada keberagaman kebudayaan yang ada. Oleh karena itu peran intelektualitas muda sangatlah diharapkan pada setiap kelompok suku dan agama yang hidup di Aceh, untuk mewujudkan perdamaian yang berbasis keberagaman.











